VMCS Dukung Regenerasi Humas Muda yang Beretika dan Berintegritas dalam Memperkuat Kepercayaan Publik di Era Digital
- Oktober 26, 2026
- Posted by: Christopher Etienne
- Category: Blog ,
Surakarta, 18 Oktober 2026 – Di tengah perkembangan komunikasi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan perubahan perilaku publik yang semakin dinamis, regenerasi profesi hubungan masyarakat (humas) menjadi aspek penting dalam menjaga kepercayaan dan keberlanjutan reputasi organisasi. Tidak hanya dituntut untuk mampu menyampaikan pesan secara efektif, praktisi humas masa depan juga perlu menjunjung tinggi etika, berpikir kritis, dan memastikan komunikasi menghasilkan dampak yang nyata.
Semangat tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Pertemuan Humas Muda (PEMUDA) 2026, bagian dari rangkaian hari kedua Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) di The Sunan Hotel Solo, Surakarta, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Mengusung tema “Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia,” forum ini menjadi ruang bagi generasi humas muda untuk memperluas wawasan, mengembangkan kompetensi, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan komunikasi yang terus berkembang.
Elvera N. Makki, Founder & CEO VMCS Communications and Social Impact, menyatakan, “Di tengah pesatnya transformasi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial, tantangan profesi humas semakin kompleks. Generasi muda humas tidak cukup hanya menguasai teknologi dan keterampilan komunikasi, tetapi juga harus memiliki landasan etika yang kuat, integritas, serta kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi disinformasi dan dinamika kepercayaan publik. Dengan bekal tersebut, generasi muda humas akan mampu menjadi komunikator yang kredibel, bertanggung jawab, dan berperan strategis dalam membangun serta menjaga kepercayaan publik secara berkelanjutan.”
Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, menegaskan bahwa regenerasi profesi humas tidak cukup dilakukan dengan memberikan ruang bagi generasi muda, tetapi juga harus disertai dengan pewarisan nilai, etika, dan standar profesional. “Generasi senior tidak cukup mewariskan panggung. Yang harus terus mengalir adalah standar, etika, keberanian berpikir, dan tanggung jawab profesi,” ujarnya.
Bagi VMCS, yang juga berperan sebagai Media Partner dalam acara ini, nilai-nilai tersebut sejalan dengan pentingnya membangun praktik komunikasi strategis yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepercayaan publik. Di tengah derasnya arus informasi, keberhasilan komunikasi tidak semata-mata diukur dari jangkauan pesan, tingkat keterlibatan (engagement), atau viralitas, tetapi juga dari kemampuannya mendorong pemahaman, membangun hubungan yang bermakna, dan menghasilkan perubahan positif.
Diskusi dalam PEMUDA 2026 turut menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi praktisi humas, mulai dari mengubah perhatian publik menjadi aksi nyata, memulihkan kepercayaan pasca krisis komunikasi, hingga menjaga konsistensi antara pesan dan tindakan organisasi. Selain itu, kemampuan memahami AI, mengolah data, serta menyampaikan informasi secara akurat dan kontekstual semakin diperlukan agar praktisi mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan tanggung jawab etis kepada publik.
Dalam konteks regenerasi, generasi humas muda juga perlu mempersiapkan diri untuk mengambil peran kepemimpinan dengan membawa nilai profesionalisme sekaligus kemampuan beradaptasi. Penguasaan teknologi dan kreativitas perlu berjalan beriringan dengan integritas, empati, serta pemahaman terhadap kebutuhan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada pembentukan citra, tetapi menjadi bagian dari upaya organisasi untuk membangun hubungan jangka panjang dan menjaga reputasi.
Melalui semangat KHI 2026 dan PEMUDA 2026, VMCS melihat pentingnya kolaborasi lintas generasi untuk memperkuat ekosistem komunikasi Indonesia yang profesional, adaptif, dan berintegritas. “Untuk mewujudkannya, diperlukan penguatan pendidikan etika profesi, pendampingan oleh praktisi senior, serta penerapan kode etik melalui studi kasus, simulasi dilema etika, dan evaluasi perilaku profesional secara konsisten. Dengan demikian, etika dan integritas tidak berhenti sebagai pengetahuan normatif, tetapi menjadi prinsip yang diterapkan dalam setiap pengambilan keputusan dan praktik komunikasi sehari-hari.” tutup Elvera.