Have a question?
Message sent Close

Foto bersama usai Energy Transition Roundtable, menampilkan para peserta yang turut berperan dalam membentuk dialog mengenai masa depan energi Indonesia.

VMCSADVISORY.COM, JAKARTA – Di tengah semakin ramainya pembahasan soal energi bersih dan kebutuhan listrik yang terus meningkat, VMCS Advisory ikut mengambil peran penting dalam Energy Transition Roundtable di Electricity Connect 2025.

Wartsila Energy
Kari Punnonen, Energy Business Director Australasia, Wärtsilä Energy, yang menekankan bahwa fleksibilitas merupakan elemen paling krusial dalam sistem tenaga listrik modern.

Diskusi tersebut memperlihatkan bagaimana para pemimpin industri, regulator, dan akademisi sepakat bahwa Indonesia membutuhkan sistem energi yang lebih fleksibel dan tangguh agar dapat mengakomodasi pertumbuhan energi terbarukan sekaligus lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data berbasis AI. Seperti disampaikan oleh Kari Punnonen, Energy Business Director, Australasia, Wärtsilä Energy: “Fleksibilitas telah menjadi atribut paling krusial dalam sistem tenaga listrik modern.” Teknologi mesin Wärtsilä yang mampu menyala dan mencapai beban penuh dalam kurang dari dua menit menjadi contoh nyata kemampuan tersebut.

Wartsila Energy
Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy, menekankan bahwa kasus Lombok menunjukkan kemampuan Indonesia untuk menyeimbangkan energi terbarukan sambil tetap menjaga keandalan jaringan tanpa perlu investasi besar pada penyimpanan energi.

Studi kasus Lombok menjadi sorotan utama. Pembangkit listrik mesin Wärtsilä berkapasitas 135 MW yang memasok hampir 60% kebutuhan listrik pulau tersebut memungkinkan PLTS 20 MW beroperasi tanpa baterai, karena teknologi mesin dapat merespons perubahan jaringan dalam hitungan detik. Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy, menegaskan: “Lombok membuktikan bahwa Indonesia dapat menyeimbangkan energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan jaringan tanpa investasi berlebihan pada penyimpanan energi.”

Wartsila Energy
Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, S.T., M.T., dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB menyoroti bahwa fleksibilitas jaringan menjadi kunci untuk mengintegrasikan energi terbarukan secara andal, seperti yang dibuktikan melalui teknologi mesin Wärtsilä di Lombok.

Hal ini diperkuat oleh pandangan Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, S.T., M.T., dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menambahkan: “Pendekatan Wärtsilä mencerminkan kebutuhan Indonesia pada tahap transisi energi saat ini. Untuk meningkatkan kapasitas tenaga surya dan angin secara nasional, fleksibilitas jaringan bukan lagi pilihan tetapi menjadi kebutuhan mendasar. Solusi yang mampu merespons dalam hitungan detik, seperti teknologi mesin Wärtsilä yang terbukti di Lombok, memastikan bahwa energi terbarukan yang bersifat intermiten dapat diintegrasikan tanpa mengorbankan keandalan sistem.”

Wartsila Energy
Fabby Tumiwa, CEO IESR, menekankan pentingnya fleksibilitas dan keandalan sebagai inti strategi energi nasional.

Dari sisi kebijakan, para panelis menekankan perlunya penyelarasan antara strategi energi nasional dan kebutuhan teknis di lapangan. Fabby Tumiwa, CEO IESR, menyatakan: “Fleksibilitas dan keandalan tetap menjadi inti dari strategi energi nasional kita.” Pesan ini menjadi salah satu fokus VMCS dalam pengelolaan media agar publik memahami bahwa keberlanjutan dan keandalan harus berjalan beriringan.

Isu lain yang mencuat adalah meningkatnya kebutuhan energi dari pusat data berbasis AI. Waktu tunggu koneksi jaringan yang sangat panjang dan kebutuhan daya besar membuat solusi pembangkitan on-site menjadi relevan. Febron Siregar menyoroti tantangan global ini: “Di beberapa pasar, menghubungkan pusat data ke jaringan bisa memakan waktu hingga 10 tahun.” Pendekatan mikrogrid yang memadukan energi terbarukan, mesin fleksibel, dan penyimpanan energi menjadi jawaban atas kebutuhan tersebutdan VMCS membantu memastikan isu penting ini mendapat sorotan di pemberitaan.

Seiring Indonesia menjalankan dua agenda besar transisi energi dan percepatan ekonomi digital teknologi fleksibel menjadi penghubung keduanya. Seperti disampaikan Febron: “Tujuan kami adalah membantu Indonesia membangun sistem energi yang berkelanjutan dan siap menghadapi masa depan.” Melalui dukungan komunikasi strategis dan peran media handling, VMCS berkomitmen membantu memastikan pesan ini diterima publik secara jelas dan berdampak, sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masa depan energi Indonesia.

Wartsila Energy
Dari sisi kiri ke kanan Wiwin Suhendri (Senior Business Development Manager), Stuti Gandotra (Market Development Wärtsilä), Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, S.T., M.T., dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Kari Punnonen (Energy Business Director Australasia, Wärtsilä Energy), Fabby Tumiwa, (CEO IESR), Febron Siregar, (Sales Director Wärtsilä Energy), Banu Luthfan Aziz (Wartsila Indonesia).

Tinggalkan Balasan